• Selasa, 28 Juni 2022

Praktisi Hukum Ungkap Masalah Utama Tren PHK Massal Perusahaan Startup: Masih Bergantung Dana dari Luar

- Jumat, 27 Mei 2022 | 10:25 WIB
Ilustrasi PHK. Baru-baru ini muncul tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di sejumlah startup di Indonesia. (mohamed_hassan)
Ilustrasi PHK. Baru-baru ini muncul tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di sejumlah startup di Indonesia. (mohamed_hassan)

Kilas - Analis dan praktisi hukum restrukturisasi utang dari Kantor Frans & Setiawan, Hendra Setiawan Boen mengungkap masalah utama perusahaan startup yang menyebabkan tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di perusahaan startup. Yakni masih bergantungnya dana operasional perusahaan dari luar.

Ia berkata bahwa dana dari investor memang dapat digunakan untuk mengembangkan bisnis, namun seharusnya perusahaan tidak bergantung pada pihak luar secara terus menerus.

“Startup ini harus bisa menghitung kapan perusahaan bisa mandiri, break-even point, mengembalikan dana pinjaman dari investor dan mulai meraup keuntungan,” ujar Hendra dalam keterangan tertulisnya dikutip dari Pikiran-Rakyat.com, Kamis, 26 Mei 2022.

Baca Juga: Emmeril Kahn Mumtadz Hilang di Sungai Aare Swiss, Ridwan Kamil: Mohon Doa

Sebagaimana diberitakan Pikiran-Rakyat.com dalam artikel Muncul Fenomena Perusahaan Startup PHK Ratusan Karyawan, Praktisi Hukum Ungkap Penyebabnya, Hendra juga menjelaskan masalah utama ini secara tak langsung menyebabkan terjadinya tren PHK massal yang dialami oleh perusahaan startup.

Fenomena PHK kini melanda di beberapa startup di Indonesia. Baru-baru ini fenomena PHK ini terjadi di dua perusahaan startup asal Indonesia yakni LinkAja atau PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) serta Zenius Education. Kedua perusahaan tersebut mengumumkan telah melakukan PHK terhadap ratusan karyawannya.

Tren PHK ini sebelumnya juga dilakukan oleh perusahaan lain seperti TaniHub, Fabello, dan UangTeman.

Menurut Hendra, tren PHK massal di perusahaan startup ini dapat terjadi karena beberapa penyebab. Selain karena pendanaan dari luar, diantaranya tidak fokusnya perusahaan dalam bisnis serta perusahaan tidak punya strategi ampuh untuk berkembang di pasar.

(Tita Salsabila/Pikiran Rakyat)

Halaman:

Editor: Fiskal Purbawan

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X